Ketua dan pengurus Fatayat NU Situbondo saat deklarasi Tolak People Power yang berlangsung di Kantor NU Situbondo. (Foto Heru Hartanto / Situbondo TIMES)

Ketua dan pengurus Fatayat NU Situbondo saat deklarasi Tolak People Power yang berlangsung di Kantor NU Situbondo. (Foto Heru Hartanto / Situbondo TIMES)



Pengurus Fatayat NU Kabupaten Situbondo menggelar khotmil Quran dan doa serta istiqhotsah bersama untuk merajut kebersamaan dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka juga menggelar pernyataan sikap menolak people power, Minggu (19/05/2019).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Nahdlatul Ulama Situbondo Jl Madura No 79 Situbondo tersebut dihadiri seluruh pengurus anak cabang Fatayat NU se-Kabupaten Situbondo dan Pengurus Cabang Fatayat NU Situbondo.

Ketua Umum PC Fatayat NU Situbondo Hj Wawi Suciati mengatakan, kegiatan rutin Qiyamu Ramadan Khotmil Quran dan doa bersama dalam merajut kebersamaan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilaksanakan PC Fatayat NU di Kantor Nahdlatul Ulama Situbondo bertujuan agar bangsa Indonesia mendapat perlindungan dari Allah SWT dari kejahatan orang-orang tak bertanggung jawab.

"Kegiatan rutin ini kita lakukan setiap tahun, setiap bulan Ramadan. Kami akan terus meningkatkan program program lain yang ada di PC Fatayat NU. Kami  berjuang untuk NU dan NKRI harga mati, " kata Wawi Suciati di hadapan PAC Fatayat NU yang mengikuti kegiatan doa bersama untuk menjaga NKRI.

Sementara itu, pembina Fatayat NU Kabupaten Situbondo Ny Hj  Djuwariyah Fawaid dalam keterangannya mengatakan, sudah sewajarnya apabila PC Fatayat NU Kabupaten Situbondo menolak people power karena gerakan people power salah satu gerakan melawan hukum.

"Gerakan poeple power yang akan dilakukan oleh orang-orang yang tak puas dengan hasil Pilres 2019 merupakan salah satu tindakan yang bisa memecahvbelah Negara Jesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, kami sebagai orang-orang Fatayat NU siap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan mempererat tali silaturrahmi bersama masyarakat," jelas istri almarhum KHR Fawaid Syamsul Arifin, pengasuh pondok Pesantren Salafiyah Safiyah Sukorejo, Situbondo, tersebut.

 Ny Hj Djuwariyah  juga mengatakan bahwa kesepakatan pendiri bangsa dan alim ulama yang menyatakan NKRI sudah final dan wajib dijjaga karena sudah sesuai dengan konsep Islam rahmatan lil alamin di Indonesia.

"Kami bersama Fatayat NU akan berperan aktif untuk melanjutkan stabilitas keamanan yang kondusif dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan fitnah, provokasi, hasutan dan tindakan yang melawan hukum (inkonstitusional) serta patuh pada pemerintahan yang sah sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan agama serta negara," tegas Hj Djuwariyah.

Lebih lanjut,  Hj Djuwariyah mengatakan,siap menangkal aksi-aksi provokasi dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dan senantiasa akan menaati peraturan dan perundang-undangan yang berlaku serta menolak gerakan people power yang menduduki kantor KPU RI dan Bawaslu RI di Jakarta.

"Untuk itu saya mengajak kepada semua komponen masyarakat agar menghormati hasil keputusan rekapitulasi suara KPU, sebagai lembaga resmi dan berwenang untuk menetapkan kemenangan presiden  dan wakil presiden hasil Pemilu 2019," pungkasnya.


End of content

No more pages to load