Jual-Beli Uang Baru Haram, MUI Kota Malang Ingatkan Warga Tukar di Jalur Resmi

Ilustrasi penyedia jasa tukar uang (Dok. MalangTIMES)
Ilustrasi penyedia jasa tukar uang (Dok. MalangTIMES)

SITUBONDOTIMES, MALANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang kembali mengingatkan masyarakat soal keputusan bahwa hukum jual-beli uang baru adalah haram. Pasalnya, sejak dua pekan menjelang lebaran banyak bermunculan penjaja uang baru di tepi-tepi jalan. 

Masih banyaknya masyarakat yang tergiur secara mudah membeli uang baru itu membuat MUI mengeluarkan surat edaran ke sejumlah instansi terkait putusan tersebut. "Berkenaan dengan banyaknya pertanyaan dari berbagai kalangan tentang status hukum jual beli mata uang, maka MUI Kota Malang memutuskan bahwa transaksi ini hukumnya haram," kata Ketua MUI Kota Malang KH Baidowi Muslich.

Dia menjelaskan, transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh. Namun terdapat sejumlah ketentuan, misalnya tidak ada spekulasi, ada kebutuhan transaksi atau simpanan. "Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis, maka nilainya harus sama dan secara tunai. Namun apabila lain jenis, maka harus dilakukan dengan nilai tukar yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai," paparnya.

Terkait kasus yang terjadi di masyarakat, yaitu jual-beli mata uang di jalan, sambungnya, tergolong haram, jika terpenuhi unsur riba dalam proses tukar menukarnya. "Contohnya, uang Rp 100 ribu ditukar dengan perjanjian jadi Rp 120 ribu, maka yang demikian ini terdapat unsur diperjanjikan keuntungan, sehingga tukar menukar yang demikian tergolong riba yang haram hukumnya," tegas KH Baidowi.

Ia menambahkan, tukar menukar seharusnya sesuai dengan nilai awal atau tidak ada unsur diperjanjikan. Misalnya, uang Rp 100 ribu ditukar, maka harus mendapatkan uang dengan nilai yang sama yakni Rp 100 ribu. "Tetapi jika ada unsur tolong menolong dan tanpa unsur diperjanjikan, maka proses tukar menukar yang dilanjutkan dengan uang tanda terima kasih hukumnya diperbolehkan," urainya. 

KH Baidowi pun mengimbau agar mayarakat menggunakan jalur resmi dalam penukaran uang tersebut. "Kan pemerintah melalui Bank Indonesia atau bank-bank lain itu sudah memberikan fasilitas penukaran uang. Itu gratis, jadi boleh. Mungkin masih malas antre, tapi bisa disiasati menukarkan di awal Ramadan misalnya," pungkas KH Baidowi. 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]situbondotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]situbondotimes.com | marketing[at]situbondotimes.com
Top