Bibit MSP Mampu Bertahan Hidup di Tanaman Dilahan Exstrim

Prof. Surono Danu rambut panjang bersama DR. M. Yahya Arie, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Abdurachman Saleh dan Linda Indrawati Pengusaha serta Iksan pengawas bibit padi MSP (Foto Heru Hartanto/Situbondo TIMES)
Prof. Surono Danu rambut panjang bersama DR. M. Yahya Arie, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Abdurachman Saleh dan Linda Indrawati Pengusaha serta Iksan pengawas bibit padi MSP (Foto Heru Hartanto/Situbondo TIMES)

SITUBONDOTIMES – Bibit padi Mari Sejahterakan Petani (MSP) yang 'dilahirkan' dari tangan Prof. Surono Danu ternyata mampu bertahan hidup walaupun ditanam dilahan extrim, Selasa (23/10/2018).

Bibit pada MSP 9, 13, 17, 18 dan 1 tersebut ditanam oleh DR. M. Yahya Arie, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Abdurachman Saleh dilahan kering Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo.

Menurut keterangan yang disampaikan DR. M. Yahya Arie, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Abdurrachman Saleh mengatakan, bibit padi MSP yang diciptakan Prof. Surono Danu ditanam di lahan kering menggunakan pupuk Mzim Sapi bernutrisi atau protein hewani. "Saya menanam bibit padi MSP di lahan kering terbengkalai yang kondisi tanahnya rusak akibat penggunaan pupuk kimia," jelas Yahya.

Lebih lanjut, Yahya mengatakan, bibit padi MSP yang diciptakan Prof. Surono Danu diujicobakan dilahan exstrim ini. Al hasil, kata Yahya, bibit padi MSP yang ditanam di lahan rusak dan minim air tersebut mampu bertahan hidup.

"Saat ini bukan musim tanam padi, tapi padi MSP ciptaan Prof. Surono Danu bisa tumbuh subur walaupun sekarang musim kemarau, " tuturnya.

Tak hanya itu saja yang disampaikan Yahya, namun dosen Universitas Abdurrachman Saleh Fakultas Ekonomi ini menegaskan bahwa, penanaman bibit padi MSP tersebut menggunakan pupuk Mzim Sapi, sehingga beras yang dihasilkan dari padi MSP mengandung protein hewani.

"Jadi bagi masyarakat yang kurang mampu bisa mengkomsumsi beras MSP yang sudah mengandung 10 persen protein hewani yang sudah melalui uji laboratorium," pungkasnya.

Sementara itu, Prof. Surono Danu mengatakan, kehadirannya ke Kabupaten Situbondo tidak lain hanya ingin melihat secara langsung bibit padi MSP yang ditanam di lahan exstrim. "Bibit padi MSP mampu bertahan hidup walaupun ditanaman di musim kemarau.

"Tidak ada keunggulan bibit padi MSP, namun bibit padi MSP akan bisa tumbuh baik apabila yang menanam memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Saya kira semua bibit padi punya kelebihan dan keunggulan masing-masing dan sehebat apa pun bibit padi itu, jika tidak ditopeng dengan SDM yang menanam, maka hasilnya bisa jelek," paparnya.

Dilain pihak, Linda Indrawati SPd, salah seorang pengusaha sekaligus petani mengatakan, dirinya tertarik untuk mensaksikan bibit padi MSP yang ditanam dilahan exstrim diberi di undang oleh Prof. Surono Danu dan teman-teman petani MSP.

"Prof. Surono Danu mengatakan kepada saya, bahwa satu butir beras itu sangat berharga, sehingga saya datang ke tempat ini untuk menyaksikan secara langsung tentang ucapan Prof. Surono Danu tersebut," paparnya.

Lebih lanjut, Linda mengatakan, dengan mensaksikan secara langsung penanaman bibit MSP dilahan exstrim, maka pihaknya semakin yakin bahwa padi MSP akan bisa mensejahterakan petani-petani kecil.

"Saya sebagai pengusaha sekaligus petani punya harapan besar dengan keberadaan padi MSP di Kabupaten Situbondo. Sebab, dengan sedikit menanam padi MSP akan mendapat hasil yang berlimpah," ujarnya. (*)

Pewarta : Heru Hartanto
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Situbondo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]situbondotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]situbondotimes.com | marketing[at]situbondotimes.com
Top